BISNIS MODEL : PERADABAN BARU DUNIA BISNIS

BISNIS MODEL
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Peradaban baru dunia bisnis yang ada pada saat ini bukanlah karena esensi bisnis itu sendiri. Ini adalah suatu peradaban baru dalam dunia bisnis yang berbeda dengan era-era sebelumnya. Mari kita simak dengan seksama hal – hal mendasar apa saja yang membedakan peradaban bisnis sekarang dan sebelumnya.

Selain itu banyak yang belum menyadari bahwa peradaban baru dunia digital berarti melipatgandakan kecepatan secara eksponensial, semakin hari semakin cepat. Adanya disrupsi menyebabkan efek penghancuran dan pergeseran yang terjadi semakin cepat.

Dalam ekonomi memiliki (owning economy) orang – orang serba ingin menguasai, sebesar – besarnya. Akibatnya banyak aset pribadi yang menganggur (idle capacity) karena terbatasnya tangan dan ide kita. Teori ekonomi lama mengatakan “More is Better“, namun tidak ada yang membuka tabir bahwa lebih pada sekelompok orang, berarti kurang untuk sebagaian yang lain.

BACA : STRUKTUR KEPEMIMPINAN PERUSAHAAN : SIAPA SAJA BOD ?✓

HAL MENDASAR PEMBEDA BISNIS DULU DAN SEKARANG

Sumber Gambar : Shutterstock.com

I. KEMAJUAN TEKNOLOGI

Semua ini terjadi karena kemajuan teknologi. Pertama, teknologi yang mengubah peradaban manusia dari time series manjadi real time. Dalam ilmu statistik time series berarti menginterpolasi data pada masalalu untuk memprediksi masa depan.

Namun pada masa kini, data real time menjadi peradaban dunia baru yang mana seluruh data tersimpan didalam big data dan diolah pada detik ini juga untuk keperluan pengambilan keputusan. Peradaban time series lebih menghasilkan tindkan yang kurang riil, karena gambaran yang di capture adalah gambaran masalalu yang dijadikan acuan pada masa sekarang.

Kadangkala data tersebut sudah tidak lagi relevan, bahkan akurasinya perlu mendapat pertanyaan. Meski perhitungannya benar, basis data yang digunakan juga benar karena bersumber dari masalalu. Tetapi, hanya sebagai ukuran data dimasalalu bukan masa kini.

II. SHARING ECONOMY

Kedua, pada era dulu ketika anda ingin berbisnis anda harus memilikinya sendiri baik itu modal, aset, dan semua unsur pendukung lainnya untuk mensukseskan bisnis anda. Namun, kini kita hidup pada era aset – aset konsumtif yang bersifat terbuka dan digunakan secara bersama – sama. Anda tidak harus memilikinya sendiri, bisa saling memanfaatkan sumber daya yang ada.

III. REAL TIME

Ketiga, masalalu tidak memberikan kesegeraan. Pada hakikatnya kita memang harus bersabar, antre, dan rela menunggu. Kini, peradaban dunia bisnis beruba, teknologi telah menyajikan on demand saat itu juga ketika anda membutuhkan. Jarak seolah sudah mati ; stok digital, data dan armada telah di pindaman dekat lokasi yang pasar butuhkan melalui teknologi algoritma.

IV. ON DEMAND

Keempat, curve penawaran dan permintaan yang dulu adalah tunggal. Sekarang kita hidup di dunia Apps yang pada saat bersamaan dikerjakan oleh banyak jaringan. Sehingga penawaran dan permintaan akan melibatkan jaringan yang begitu luas.

V. INVISIBLE COMPETITION

Kelima, para kompetitor tidak terlihat secara kasat mata. Mereka langusng ke sasaran utama, konsumen akhir. Mereka hampir tidak dikenali kecuali terdapat atribut berupa logo perusahaan sebagai bentuk dari penerapan strategi branding perusahaan dalam hal positioning.

“Alibaba mendisrupsi dunia dengan mempermudah pencarian dan transaksi dari pemasok – pemasok berbagai negara asia. Membuat pebisnis amerika (importir) senang karena mudah, accesible, dan relatif murah”.

MANAJEMEN BARU DUNIA BISNIS DENGAN DISRUPTIVE MINDSET

Sumber Gambar : asonjots.com

Kunci dari semua ini adalah manajemen baru dengan pemikiran disruptive. Saat resesi melanda dunia, Schumpeter hadir membawa ketenangan bagi para wiraushawan dengan memperkenalkan konsep “conjunture” siklus ekonomi (crises – growth) yaitu siklus bergantian dari pertumbuhan, lalu krisis, kemudian tumbuh lagi, bergantian naik dan turun suatu siklus ekonomi. Setelah itu kita belajar tentang hirarki, koordinasi, alligntment, pengukuran kinerja, dan seterusnya.

Semua ini memberikan kita pencerahan, bahwa kita perlu melakukan akselerasi demi mengejar perubahan yang semakin hari akan semakin cepat. Dari metode manajemen jepang yang kita pelajari seperti ; total quality control, just in time, dan corporate culture. Kemudian kita memasuki era reengineering, change dan bermuara pada disrupsi dengan agile management (ketangkasan).

Dengan mindset destructive manajemen mampu berubah menjadi pioner dalam merubah pola ekonomi lama kearah dunia baru. Kita dapat mengambil contoh Tesla, perusahaan mobil listrik ini menjelma menjadi perusahaan yang bertumbuh dengan metode distruptive yang merespon keserakahan sekelompok orang dalam memonopoli minyak.

Dunia travel juga sedang ramai – ramainya, yang mana pola kehidupan masa kini lebih memfokuskan pada pengalaman (experienced) pengguna. Mereka berbondong bondong untuk berwisata, harga tiket yang murah dan akses yang mudah menjadi pelung bisnsis yang dapat terbaca dan dilahap oleh Air BnB.

ITERATION, INNOVATION AND DISRUPTION

Sumber Gambar : www.flickr.com

“Sukses tergantung pada kemampuan kita menyelaraskan ketiganya : Iteration, Innovation, dan Disruption. Jika anda tidak mendisrupsi diri anda sendiri, maka anda akan mendapatkannya dalam bentuk hadiah dari orang lain”.

– Mark Zuckberg

Sayangnnya kebanyakan dari kita hanya melakukan iretation, termasuk mengulang agar mendapatkan hasil lebih baik kemudian terperangkap dalam kebiasaan. Kita juga mengenal innovation dengan baik, namun hal itu belum cukup untuk mencapai perubahan. Dan akhirnya disruption lah, yang membuat sesuatu baru dengan cara yang baru pula mampu membuat publik beralih dan meninggalkan yang lama.

Selain itu kita juga mengenal efficiency innovation, yaitu inovasi yang berdampak pada pemangkasan biaya sekaligus memberi sinyal negatif pada penciptaan lapangan pekerjaan. Ketika ruang kreativitas terbatas, manusia hanya akan berfokus pada efesiensi untuk mendapatkan keuntungan lebih. Salah satu yang akan dipangkas adalah tenaga kerja secara masif, karena dianggap sebagai fixed cost yang membebani.

SISTEM LINEAR VS PLATFORM

Sumber Gambar – https://medium.com/

Orang – orang pada dunia lama sangat terbiasa dengan realitas dalam dunia riil, fisik dan nyata terlihat. Produk yang kita sebut dengan mata rantai linear, yang mana terdapat single supply dan group demand (konsumen). Nah, itulah yang menyebabkan kekayaan tertumpu hanya pada sekelompok orang yang menjadi single supply, sedangkan yang lain tidak mendapat kesempatan.

Peradaban dunia baru menyajikan sesuatu yang berbeda yaitu sistem berjaring (platform). Karena pada masa kini, sharing is the new buying. Mereka tidak hanya bertransaksi jual beli, namun mereka telah membentuk sistem perekonomian berjaring sehingga sulit untuk dihentikan pertumbuhannya.

Mereka yang dulunya linear telah berubah menjadi platform, dimana terdapat group of demand dan tersedia pula group of supply.

APA YANG DIMAKSUD DENGAN DISRUPSI

Sumber Gambar : https://satriadharma.com

Disrupsi adalah sebuah inovasi yang menggantikan seluruh sistem lama dengan cara – cara yang baru. Disrupsi juga berpotensi menggantikan pemain lama (incumbent) dengan pemain baru. Kemudian menggantikan teknologi lama dengan teknlogi baru yang lebih effesien dan bermanfaat.

Tentu ada pengecualian, pengecualian yang hanya bisa terjadi jika kita benar – benar cerdik berinovasi, me reshape model bisnis dengan cara yang baru. Hal itu juga menjadi pengecualian apabila elite dan publik me reshape undang – undang atau peraturan lama, kemudian memberi ruang lebih pada pembaharuan.

Inovasi memang sejatinya bersifat destruktif sekaligus kreatif. Karena itu, selalu ada yang hilang, memudar, lalu mati. Namun, disisi lain ada hal baru yang hidup. Meski ada lapangan kerja yang hilang, akan selalu ada yang menggantikannya melalui kreatifitas dan cara baru. Begitulah siklus alam berlaku.

Pada hakikatnya disruption merupakan inovasi yang menciptakan pasar yang benar – benar baru ataupun pasar lama namun pada kelompok low – end. Artinya disruption merupakan gebrakan baru yang mengupgrade produk atau jasa pasar low – end, menjadi lebih berkualitas kemudian menyebabkan pasar midtop berpindah ke lowend.

Sekali lagi kita kedepannya membutuhkan distruptive mindset, distruptive leader, disruptive marketing, dan disruptive action.

BACA : KETIKA GELOMBANG DISRUPSI MENGHANTAM DUNIA✓

Referensi ;
[1] Disruption, Rhenald Kasali.


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

About F Joanda

Dirutkece adalah brand. Menjadi kebanggan tersendiri untuk saya ketika bisa berbagi banyak hal kepada orang lain.

View all posts by F Joanda →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *